Showing posts with label women. Show all posts
Showing posts with label women. Show all posts

Wednesday, August 06, 2008

Serong, Sensasi dan Masokisme*

opera jawaSERONG dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 2 diartikan sebagai 1) tidak lurus (tt arah); menyimpang dari garis (arah) yang lurus; menyudut (tidak merupakan siku-siku); mencong: tulisannya ... sedikit; 2) tidak sebagaimana mestinya; menyimpang dari arah yang lurus: berjalan ...; 3) curang; tidak lurus hati; tidak jujur: berbuat (berlaku)...; 4) tidak setia; tidak tulus hati: berbuat ... dalam perkawinan adalah perbuatan yang tidak terpuji. Namun serong sendiri juga ada sebagai padanan kata selingkuh. Masih dari KBBI Edisi 2, selingkuh diartikan sebagai 1) suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2) suka menggelapkan uang; korup; 3) suka menyeleweng.

Melihat arti dari kedua kata tersebut di atas, maka pilihan kata serong untuk seorang pasangan yang menjalin hubungan dengan pasangan yang lain dirasa lebih tepat. Ya kata selingkuh boleh dipakai jika perbuatan yang dilakukan menjadi simptom, yang artinya berulang-ulang dilakukan. Karena yang berlaku sebenarnya bukan hanya perbuatan tapi juga berkait dengan hati dan pikiran. Jadi dalam khasanah Freudian ini merupakan dorongan purba yang tidak bisa dikontrol oleh otak. Karena disanalah sedang terjadi pergumulan antara Id dan Super-ego yang seharusnya ditengahi oleh Ego. Dalam banyak hal Ego kemudian tidak mampu menjadi penengah.

Sebagai pelaksanaan dari dorongan naluriah yang “harus” dipenuhi, perbuatan serong ini sebenarnya usaha untuk memenuhi dorongan tubuh dan mental. Dorongan tubuh dapat berupa makan, minum, seks, dan lain-lain. Sementara dorongan mental mewujud pada perasaan ingin diperhatikan, disayang, membalas dendam, egoisme, dan lain-lain. Tentu dalam banyak hal pasangan dari seorang yang melakukan perbuatan serong akan mengalami kebingungan menganalisa kenapa pasangannya selingkuh. Apalagi jika hanya menganalisa dari segi dorongan tubuh. Sayangnya dorongan mental tidak sepenuhnya diketahui oleh orang awam. Atau dengan kata lain mereka pun sebenarnya telah merasa memberi perhatian, menyayangi, mengasihi, dan sebagainya.

Dalam kasus serong atau selingkuh, lebih sering kedua pihak yang melakukan hubungan gelap (kadang terang benderang) tersebut sangat sadar dengan apa yang mereka lakukan. Itu jauh lebih banyak daripada kejadian serupa dengan salah satu dari yang terlibat hubungan selingkuh itu melakukannya karena ditipu oleh pihak lainnya yang merupakan orang yang serong. Namun, efek terpuaskannya dorongan naluriah tadi mampu membuat kontrol diri terbungkam; tahu dan sadar atas suatu hal tidak memberi dampak apa-apa. Nona Klutuk, seorang teman lama saya, menjelaskan bahwa situasi semacam ini seperti seorang yang ketagihan kondisi delirium dari konsumsi minuman keras atau zat adiktif dan lantas menjadi pencuri kambuhan atau malah pencuri profesional. Si pencuri itu, yang tentu saja berdusta bila bilang tidak tahu mencuri adalah kriminalitas, kemudian membelanjakan hasil curiannya untuk minuman keras atau obat-obatan terlarang. Itu dilakukan berulang kali sampai-sampai terasa sebagai hal yang benar untuk dijalani. Bila si pencuri ini tidak terlalu sibuk mencuri serta konstan dalam delirium-nya, bisa jadi ada saat dia tergugah oleh panggilan nuraninya untuk berhenti mencuri, berhenti melakukan perbuatan yang dia tahu tidak sepantasnya dia lakukan. Itu kalau dia secara sendirian bisa berada dalam jarak cukup dari kondisi dirinya yang mabuk, mampu cukup punya keseimbangan dinamika kepribadian yang membuat super-egonya bisa bekerja cukup untuk menyeimbangkan id, sehingga egonya—rasionalitas dan intuisinya bisa melakukan penilaian situasi secara lebih berpijak pada segala ruwet mawutnya jaringan realitas di sekitar dirinya.

Celaka bila si pencuri selalu saja dalam keadaan mabuk konstan dan terlalu sibuk mencuri. Bisa jadi, hanya kejadian luar biasa yang di luar keinginannya yang bisa mencabut dia dari realitas semu bahwa kelakukannya adalah bukan kriminalitas. Lain kata, mereka akan kembali sadar atau (pura-pura) mendadak tahu kelakuan kriminalnya setelah mendapatkan pukulan atau amukan dari pihak luar. Sudah dihajar pun, maling pemabuk sering membela diri dia mencuri demi ini itu, karena terpaksa, karena digoda keinginan.

Tanpa bermaksud jadi normatif dan moralis fanatik, dengan uraiannya itu si Nona membeberkan analogi yang cukup simpel untuk membantu memahami mengapa seorang mau berbuat serong atau selingkuh dengan seorang perempuan atau laki-laki yang sudah punya pasangan, bahkan banyak yang sudah secara hukum sah terikat sebagai suami istri. Bila tidak ada faktor-faktor lain yang lebih rumit dan menekan, dari analogi Nona tadi hubungan dengan orang yang sudah berpasangan adalah pemenuhan egoisme, merasa bangga dan senang jika dapat dipuja. Sensasilah disini yang bermain. Kondisi mabuk yang ingin berulang kali dikecap, tak jarang ingin dijadikan kenyataan.

Persoalannya, akhir-akhir ini saya menemui fenomena betapa banyak perempuan yang mengaku aktivis feminis mengalami persoalan semacam itu, tepatnya saya dihampiri oleh beberapa perempuan feminis (?) yang mengusung persoalan berkait ataupun bersumber dari hubungan semacam itu. Mereka menjalin hubungan dengan laki-laki beristri atau punya relasi dengan orang lain. Bukan maksud saya menggeneralisir semua laki-laki itu bajingan, namun saya memang tidak menyoroti “tentang bagaimana” dan “tentang apakah” pada lelaki karena hampir bisa dipastikan lelaki yang mempunyai pasangan dan ditambah pula dia tidak terlibat dalam kerumitan dan tekanan di luar kewajaran dalam hubungan dengan pasangan resminya, tapi sengaja berselingkuh, jelas seorang oportunis yang tidak menyia-nyiakan kesempatan (yang kadang tidak alamiah—melainkan hasil ciptaannya), dan hampir dapat dipastikan pula oportunis kelas kecoak begitu akan tunggang langgang membersihkan diri dari segala risiko. Lelaki jenis coro begini jelas tidak innocent karena mengeksploitasi (terutama emosi) perempuan dan secara luas mempersulit posisi laki-laki lain yang sadar akan dan ikut mendukung kesetaraan gender.

Persoalan yang menggelitik saya, yang makin kental belakangan karena saya makin kerap didatangi perempuan-perempuan muda yang terdidik dan cukup memiliki pikiran maju (bahkan tanpa ragu mengatakan dirinya feminis), adalah kenyataan bahwa dalam status dan keterbukaan pikiran mereka atas ketidakadilan gender yang berurat akar pada patriarki, mereka dengan sengaja menjalin hubungan dengan suami orang lain. Pertanyaan-pertanyaan saya: 1) apakah mereka tidak sadar bahwa yang mereka lakukan itu secara sekaligus sedang menghancurkan perempuan lain?; 2) apakah mereka tidak sadar bahwa dalam relasi ‘sembunyi-sembunyi’ semacam itu dialah yang akan dirugikan?; 3) apakah mereka tidak tahu bahwa suatu saat laki-laki itu akan meninggalkannya dan kembali kepada kemapanan yang telah dibangunnya?. Jawaban dari semua pertanyaan saya itu (betapa mengagetkannya!!) tenyata adalah mereka sadar dan tahu. Ini jawaban dari mereka saat saya bertanya, bukan kesimpulan yang saya rangkai dari mana-mana.

Berpapasan dengan Nona Klutuk di jagad maya, dalam perjalanan singkat saya tergopoh membuntuti dia menyusuri ruang-ruang tempatnya biasa memuaskan diri mengunduh buku-buku bajakan, kami berbincang tentang adanya tiga kemungkinan perempuan yang melakukan hal ini. Pertama, perempuan ini senang dengan perasaan deg-degan karena khawatir. Khawatir ini bisa mengambil bentuk apa saja dan juga bisa berasal dari mana saja, efeknya memacu adrenalin dan gairah sebagaimana efek ketegangan dinikmati oleh pelaku olah raga ekstrim. Kedua, dia senang dengan rasa ‘mencuri’ dan bahkan menyukai tindakan “mencuri” sebagaimana penderita kleptomania berada dalam serangan demam obsesi-kompulsif. Ketiga, perempuan ini senang dengan ‘perasaan menang’ yang sementara dan bahkan bila tidak mau kembali ke dunia nyata, dia berulang kali menyuntikkan keyakinan palsu pada dirinya bahwa si lelaki yang berselingkuh ini menyintainya lebih daripada istri di rumah; membangun delusi di mana dirinya memerankan tokoh pujaan dalam drama tragedi dengan naskah seburuk script sinetron kejar tayang. Sementara untuk menjelaskan bagaimana mungkin orang yang sadar dan tahu bahwa yang dilakukannya itu akan menimbulkan rasa sakit tetapi tetap saja dilakukan, dikejar-kejar, diulangi berkali-kali, Nona Klutuk mengatakan bahwa sebenarnya banyak dari kita adalah masokis. Dalam beberapa hal banyak orang yang mencari dan menikmati ‘siksaan’.

Di sisi yang lain, laki-laki akan lebih banyak diuntungkan dengan kondisi semacam ini. Terutama karena situasi masyarakat yang masih sangat patriarki, yang tentu akan lebih permisif pada laki-laki yang berbuat serong atau selingkuh dibandingkan dengan perempuan. Tak akan ada yang sanggup menghitung berapa banyak perempuan yang menjadi korban dari sistem salah kaprah, timpang, dan tidak adil ini. Hingga sekarangpun, sebagian besar perempuan tidak sadar mereka hidup dalam budaya patriarki yang membuat diri mereka dalam intaian sebagai calon mangsa ketidakadilan jender, sementara sebagian terbesar laki-laki menikmati privilege mereka sebagai berkah bawaan (given).

Sayangnya, ketidaktahuan macam itu bukan situasi diri perempuan dalam berbagai kasus nona-nona “feminis’ muda yang dicampakkan kekasih mereka yang kembali pada pasangan resminya, perempuan-perempuan maju yang menggenggam beribu potensi besar tapi datang pada saya dengan kecengengan tidak masuk akal khas ketidakmutuan sinetron televisi. Persoalan mereka dimulai dengan sadar dan sepenuhnya dalam rentang kondisi mereka sebagai perempuan progresif. Bahkan beberapa adalah aktivis hak-hak kaum perempuan; sudah menjadi, bukan mereka menjadi aktivis setelah mereka menjadi korban. Ini lebih diperparah dengan upaya mereka kemudian mengecap dan memosisikan diri sebagai korban, dan makin diperparah lagi absurditasnya saat mereka makin menuruti emosi hingga berbenturan dengan si lelaki, pasangannya, bahkan kewarasannya sendiri. Hal ini justru memperkuat budaya patriarki karena memperlihatkan betapa lemah dan tak berotaknya perempuan. Secara sarkastik dapat dikatakan: jelas laki-laki tidak menolak bangkai, dan dalam hubungan yang sejak semula dia ketahui potensinya lebih besar merugikan dirinya, si perempuan ini malah membuka celah makin besar pada si lelaki untuk menggali beribu alasan.

Dalam kekalapan mereka tidak sanggup kembali pada realita hubungan yang semata perselingkuhan, gilanya, menuntut dan menyuarakan diri sebagai korban dianggap sebagai jalan penyadaran atau usaha mendapatkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Ini sungguh sukar saya mengerti: gadis-gadis ini berulang kali menyatakan dirinya sadar hubungan macam apa yang dulu telah dia mulai, kini berusaha mendapatkan posisi setara dengan berteriak dirinya adalah korban. Tentu tidak bisa. Budaya dan adat ribuan tahun yang telah menjadi archetype tidak bisa dengan serta merta dirubah. Mengubah budaya dan adat yang telah menjadi mikro fosil dalam darah manusia itu dibutuhkan waktu dan kegigihan. Perempuan yang menjadi korban (dan bisa dikatakan semua perempuan adalah korban dalam budaya partriarki) yang kemudian bangkit untuk mengubah nilai dan pratik patriarki yang akan mampu mengubah alur hitam ketidaksetaraan gender dalam ribuan tahun sejarah umat manusia. TAPI BUKAN lantas perempuan ini (karena dengan satu dan lain bentuk relasi percintaan diakhiri atau ditarik ulur oleh kekasih yang beristri) secara egois, masif, dan obsesif melabelkan diri sebagai korban padahal sebelumnya sadar-giat-suka-rela menjalankan peran aktif dalam membantu si lelaki menjadikan perempuan lain sebagai korban.

Seharusnya perempuan itu sadar sebatas apa hubungannya dengan laki-laki beristri itu. Tak bisa lantas berulang kali berkilah, “tapi kami saling menyayangi” atau “tapi aku tahu benar dia mencintaiku seperti aku padanya”. Nona Klutuk, yang sudah selesai pula mengunduh novel incarannya, menutup diskusi kami dengan pernyataan ironis: itu lebih kacau lagi campur baur rasionalitas dan khayalannya, sebab sayang/cinta dan nafsu meski seiring sejalan tetaplah dua hal yang bisa dipilah. Sayang itu dari hati, tapi kemauan bercumbu dan ingin memiliki itu banyak campurannya. Atau dalam bahasa yang lain nafsu. Lagipula kalau mau ‘nikmatin hal yang enggak-enggak ya cukup lakukan saja yang enggak-enggak itu’ toh tahu risiko dan konsekwensinya. Dengan mengetahui bahwa ada risiko dan konsekwensi itulah maka pihak yang berkepentingan seharusnya dengan sadar tidak ngakngik nggak karuan. Toh seharusnya sejak awal disadari bahwa dalam berelasi itu semuanya permainan. Dan setiap orang senang bermain-main, karena ingin menang dan senang. []

*Tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan ini merupakan hasil diskusi panjang bertahun-tahun dengan Nona Klutuk. Jangan sembunyi terus.

Sunday, July 20, 2008

Kucing dan Ikan Asin

KASUS Machica-Moerdiono sudah jamak terjadi di dalam masyarakat kita. Kebetulan saja Moerdiono adalah (bekas) orang penting sehingga kasusnya menjadi bagian dari berita-berita di media. Mengikut di belakangnya ada kasus serupa yang dialami Sandy Harun, Mayangsari, Angel Elga dan banyak lagi. Perempuan selalu menjadi bulan-bulanan dalam kasus ini. Dalam hubungan cinta atau seks di luar jalur resmi, perempuanlah yang selalu berada di bayang kesalahan.



Di tengah masyarakat kasus semacam ini juga banyak, hanya saja memang tidak diliput oleh media. Sulit dibayangkan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan umumnya yang bukan selebritis (orang penting) dalam menghadapi kasus semacam ini. Mulai dari tekanan sosial dari lingkungannya hingga pada hal yang paling rendah adalah mereka tidak bisa menyuarakan apa kebenaran menurut versinya. Sederet selebritis yang mengalami kasus ‘pertumpahan sperma tidak resmi’ masih beruntung karena punya akses ke media dan punya cukup pengacara. Tetapi bukan berarti mereka tidak menderita, mereka menderita dan tetap sebagai korban.


Sayangnya dalam kasus semacam ini, perempuanlah yang selalu dianggap ‘memulai’. Atau dalam ucapan yang sering terdengar di masyarakat: mana ada kucing dikasih ikan asin tidak mau. Ucapan tersebut mengandaikan bahwa laki-laki (kucing) hanya bersifat mengikuti ‘rangsangan’ akibat tawaran berupa ikan asin (perempuan). Dampak dari term tersebut sangat luar biasa. Masyarakat menjadi sedemikian stereotip melihat persoalan hubungan laki-laki perempuan di jalur resmi bahwa perempuanlah yang menggoda, memulai, merusak, dan sebagainya.


Memang juga bahwa dalam kasus semacam ini perempuan juga berandil dalam menciptakan ‘kesalahan’, tetapi yang harus dicatat adalah bahwa kesalahan itu tidak bisa dilepaskan dari sifat resiproksalnya. Tidak mungkin akan terjadi jika hanya perempuan saja yang memulai, pun tidak akan terjadi jika laki-laki saja yang berinisiatif. Semua bersifat saling, terhubung dan sangat dependen. Ini yang harus dipahami baik oleh yang berkasus, juga oleh masyarakat. Dengan demikian upaya menciptakan kesetaraan dan keadilan dalam menyelesaikan kasus semacam ini tidak hanya menempatkan perempuan sebagai faktor yang paling bersalah.


Dalam perkembangannya kasus semacam ini kemudian laki-laki merasa bahwa tidak selalu harus perempuan yang merupakan korban. Pernah ada kasus seperti ini, lalu laki-laki yang berkasus itu berkata: ‘Kenapa akhirnya perempuan yang selalu diposisikan sebagai korban!? Sepertinya mereka bebas dari perbuatan berkuasa saja.’ Tidak jelas apa yang dimaksud dengan ‘bebas dari perbuatan berkuasa’, tetapi sangat jelas ditangkap bahwa dia (sebagai laki-laki) tidak mau menerima jika perempuan yang akhirnya menjadi korban.


Sebenarnya sangat sederhana saja melihat hal ini. Bisa kita lihat dari kasus Mayangsari. Media atau siapa orang yang kemudian menyorot/melihat kasus ini sebagai kesalah Bambang Hutomo? Jika ada itu pun sangat sedikit. Media lebih senang mengintai dan menguntit Mayangsari. Bahkan dalam beberapa kesempatan media lebih memilih menempatkan Mayangsari sebagai perusak rumah tangga Bambang dan Halimah. Termasuk juga usaha untuk meyakinkan bahwa Mayangsari telah menggunakan guna-guna untuk memikat Bambang. Artinya Bambang tidak bersalah/berdosa, dia hanya pasif. Media dan masyarakat belum mau mengubah cara pandangnya dengan melihat bahwa Bambanglah yang mempunyai kehendak dalam ‘berhubungan’ dengan Mayangsari. Atau setidaknya mereka berdua sama-sama mau dan berminat.


Dari kasus-kasus seperti itu terlihat dengan jelas bahwa perempuanlah korbannya. Bahkan ketika proses itu dimulai pun, perempuan sebenarnya telah menjadi korban. Ya, sekali lagi karena tata-pikir masyarakat (laki-laki) cenderung melihat bahwa perempuan lemah dan pasti akan mau dengan mereka bahkan dalam posisi, situasi dan status yang disandang oleh laki-laki. Celah inilah yang memungkinkan terjadinya abuse (penyalahgunaan) posisi yang tidak setara tersebut untuk menjalin relasi. Apalagi terhadap perempuan-perempuan yang mempunyai sematan kerentanan yang lain seperti kemiskinan, status sosial yang lebih rendah, relasi kekuasaan dalam pekerjaan, dan sebagainya. Perempuan semacam ini akan lebih sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Bahkan sebagai korban pun mereka akan kesulitan untuk melawan dan bersuara.


Ironisnya, logika kucing dan ikan asin ini menjadi massal dipahami oleh hampir seluruh masyarakat. Pun juga mereka yang tengah giat berkarya untuk demokrasi, keadilan, moralitas dan apapun. Tentu sulit karena hal semacam ini telah sangat sistemik, walaupun itu bukan berarti tidak bisa. Inilah patriarki. []

Friday, April 27, 2007

Ibu Sutarni: Perempuan Pengrajin Fiber

DITEMUI di tengah-tengah kesibukannya, Ibu Sutarni, perempuan berusia 38 tahun tersebut tampak begitu sigap dalam memilah-milah produk kerajinan fibernya. Berkali-kali menjelaskan dan menyodorkan contoh barang-barang kerajinan tersebut tidak membuatnya lelah dalam menjalani proses tersebut. Usaha kerajinan fiber yang digelutinya lebih dari lima tahun ini cukup membuatnya mampu menghidupi dirinya dan satu orang puteranya. Kerajinan fiber yang begerak di bawah bendera “LDE Art” miliknya tergolong cukup sukses walaupun jauh dari sorotan publik dan pemerintah.
“Ya begini ini Mas. Saya dulu mulai kecil-kecilan. Karena awalnya saya ini cuma sekretaris di sebuah perusahaan kerajinan fiber juga. Tetapi setelah krisis banyak dari kami yang tidak menerima gaji dan di PHK, termasuk saya. Satu-satunya modal yang saya miliki ya pengetahuan membuat produk-produk fiber ini, juga daftar tamu yang dulu sering pesan produk fiber di perusahaan saya,” begitu katanya menerangkan awal mula usaha fiber yang digelutinya itu.
Sebagai pengusaha industri kecil, Ibu Sutarni sebenarnya tidak berharap banyak. Hanya perekonomian berangsur-angsur pulih dan normal kembali sehingga penjualan kerajinan fiber juga dapat berjalan lancar seperti dulu lagi. Menurutnya beberapa kali krisis dan peristiwa yang menimpa Indonesia membuat pengusaha kecil sepertinya sulit sekali mencari celah peluang untuk memperluas pasarnya. Apalagi pemerintah nampaknya tidak mau menyentuh ke wilayah yang lebih substansial dalam menggalang usaha kerjasama dan peningkatan kapasitas industri-industri kecil.
Dengan terbatasnya modal yang dimiliki oleh industri kecil menurutnya pemerintah harus berani turun tangan memberi bantuan dana. Karena dengan adanya dana segar tersebut setidaknya industri kecil dapat sedikit mengembangkan berbagai sisi dalam usahanya memperbesar skala produksi. Apalagi dengan hanya berbekal kemampuannya mengelola dan memanajemen usaha yang otodidak ini seharusnya lebih banyak lagi bimbingan yang diberikan. Tetapi seperti pengusaha kecil lainnya, Ibu Sutarni juga hanya bisa berlaku pasrah menerima keadaan seperti itu.
“Mau gimana lagi? Kalau berharap dari pemerintah saya pikir itu akan sangat sulit. Karena seperti kami sudah berulang kali mencari terobosan untuk mendapatkan kucuran dana, tetapi itu sangat sulit. Apalagi usaha kami hanya bersifat pas-pasan saja. Kredit selalu harus ada agunan, harus ada survey kelayakan. Itu sulit bagi kami. Administrasinya rumit,” begitu jelasnya.
Keterbatasan-keterbatasan semacam inilah yang kemudian membuat Ibu Sutarni semakin yakin bahwa usahanya tidak akan berarti apapun jika hanya sekedar berharap pada uluran tangan orang lain saja. Maka dengan tak jemu-jemu Sutari selalu berusaha sendiri mengembangkan usahanya. Setidaknya saat ini “LDE Art” mampu menampung lebih dari 20 orang tenaga kerja lepas. Dan pasar yang dijangkau pun juga terbilang cukup luas. Saat ini “LDE Art” yang digawangi oleh seorang perempuan ini mampu menembus pasar-pasar di liar negeri. Tamu-tamu yang datang dan memesan produk fibernya berasal dari berbagai negara seperti Swedia, Austria, Belanda, Jepang, dan masih banyak lagi.
Jauh dari pusat kota “LDE Art” memang sulit sekali diakses oleh masyarakat umum. Bertempat di Mandungan I Rt 03 Rw 24, Seyegan, Margoluwih, Sleman industri kerajinan fiber ini seolah jauh dari sentuhan pemerintah. Namun hal ini tidak menutupnya untuk menjadi langganan bagi tamu-tamu yang datang untuk memesan barang kerajinannya. Inilah yang sebenarnya cukup menyulitkan untuk memajukan industrinya tersebut. Tamu-tamu yang datang biasanya akan memberitahukan melalui telepon terlebih dahulu. Kebanyakan mereka pun adalah langganan lama atau mereka yang tahu dari langganan dari “LDE Art”. Terbatasnya pasar dan pola pemasaran yang dimiliki oleh “LDE Art” merupakan hal yang disadari benar oleh Ibu Sutarni. Tetapi dia sendiri tidak mampu berbuat banyak.
Sebagai industri kecil yang berbasis di desa, “LDE Art” memang tidak mampu memberi sumbangan yang besar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Alih-alih PAD, untuk sekedar memberi sumbangan yang ‘cukup’ bagi pihak desa pun “LDE Art” mengalami kesulitan. Apalagi dengan ketidakjelasan pola pungutan yang ditarik dari desa kepada pihak pengusaha. Kontribusi yang diakui saat ini bisa diberikan oleh “LDE Art” adalah sedikit menyerap tenaga kerja dari pemuda-pemuda yang tidak bekerja. Harapannya memang ada efek multiplier dari hal itu. Setidaknya dengan adanya industri kerajinan fiber ini kemudian juga muncul pemuda-pemuda yang berinisiatif membuat sendiri lalu menyetornya ke “LDE Art”.
“Bagi saya itu sangat menggembirakan. Saya juga tidak menganggapnya sebagai saingan atau nyempal dari saya. Saya lebih senang begitu, karena itu maju,” jawab Ibu Sutarni menanggapi kemunculan pengrajin-pengrajin fiber yang baru itu.

S
ayangnya, variasi produk yang dikeluarkan juga sangat terbatas. Industri kerajinan fiber yang biasanya memproduksi barang-barang seperti asbak, vas bunga, patung, dan barang-barang merchandise lainnya ini terlihat membutuhkan sentuhan variasi yang lebih banyak. Dengan itu maka kesan monoton dan keajekan yang ada dari produk-produk industri kerajinan fiber dapat ditepis. Hal ini diakui Ibu Sutarni, menurutnya banyak barang diproduksi karena sesuai dengan pesanan. Sulit untuk berinovasi dan berkreasi sendiri.
“Seperti saat ini, yang sedang nge-trend barang-barang yang berhubungan dengan mariyuana, Bob Marley. Ini yang kita produksi. Karena pesanannya itu. Kalau untuk membuat yang baru sulit, takutnya tidak laku. Keterampilan kita juga kurang,” aku Ibu Sutarni yang dengan bekal pendidikan SMA-nya mampu mengembangkan industri seperti ini.
Sementara menanggapi peran pemerintah, bagi Ibu Sutarni, dia akan sangat berterima kasih kalau pemerintah setidaknya mau memberikan pelatihan atau membantu pemasaran. Karena berharap untuk mendapatkan dana bantuan modal sudah tidak mungkin lagi. Menurutnya sudah sering sekali dia berharap ada bantuan modal. Beberapa lembaga keuangan yang coba ditembusnya juga terlihat sangat enggan memberi bantuan modal.
“Padahal orang desa seperti kami tidak akan lari (kalau mendapat pinjaman .red). Tidak seperti orang-orang itu. Tapi tetap saja kami tidak dipercaya. Mungkin perlu rekomendasi dari pemerintah agar kami bisa dapat,” begitu harapan Ibu Sutarni.
Tidak terasa perbincangan kami tidak menyisakan sama sekali teh hangat yang telah disediakan oleh Ibu Sutarni. Ini juga menjadi tanda bagi kami untuk segera berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas perbincangan yang sangat menarik tentang industri kerajinan fiber yang digeluti Ibu Sutarni. [Sigit G Wibowo]