Showing posts with label patriarchy. Show all posts
Showing posts with label patriarchy. Show all posts

Thursday, September 25, 2008

Berani Bertindak, Takar Dahulu Risikonya

MASIH tentang selingkuh, hanya saja tulisan kali ini akan lebih fokus ‘mengapa laki-laki berselingkuh’. Tapi harus dicatat di awal bahwa selingkuh ini berbeda dan harus dibedakan dengan ‘jajan’ di lokalisasi/prostitusi. Ini hanya untuk membiasakan saja bawa berselingkuh melibatkan perasaan/emosi bukan sekedar hasrat. Kedua, tulisan ini menyinggung sedikit tentang kenapa laki-laki menjadi tidak berani bertanggungjawab. Lebih terjelaskan dengan tulisan ini nanti.

Terlambat Dewasa
Teori umum yang tidak pakai pembuktian tetapi banyak kebetulan dalam fakta nyata alasan seorang laki-laki berselingkuh (serong) adalah selalu terlambatnya dewasa laki-laki dan lemah dalam takaran sebab-akibat. Ilustrasinya laki-laki yang berusia 40 tahun faktor mental (kedewasaan dalam perhitungan hidup) akan sama dengan perempuan yang berusia 27-28 tahun. Apalagi dengan kebudayaan kita yang cenderung memanjakan laki-laki. Dan di satu sisi budaya yang sama mengatur perempuan untuk menanggung banyak risiko hidup.
Laki-laki yang berselingkuh alam sadarnya tidak mengkalkulasi risiko seperti perempuan. Dalam arti yang lain juga tidak mengkalkulasi tingkat permainan. Dengan demikian ketika perempuan bertanya tentang komitmen, laki-laki hanya mengiyakan saja. Perempuan yang terlanjur dilepas dan dikejar akan mengira laki-laki benar-benar serius padahal bagi laki-laki ya tetap saja main-main. Saya menjadi teringat dengan bagian Para Istri di Para Priyayi-nya Umar Kayam. Ngaisah, istri Sastrodarsono pernah mengatakan bahwa “suami-suami sesungguhnya adalah anak-anak yang tidak kunjung tumbuh menjadi dewasa. Bermain adalah pusat dari segalanya bagi mereka.” Persoalannya laki-laki kemudian tidak bisa membedakan mainan dan ‘mainan yang hidup’.
Lantas mengapa lebih banyak laki-laki yang berselingkuh daripada perempuan? Ini juga terjadi karena bias gender. Karena peradaban yang patriarkhi juga mengorbankan laki-laki. Bagaimana bisa? Keterlambatan dewasa laki-laki membuat laki-laki mudah mengalami stress dan menanggung stress. Bagi laki-laki ini persoalan yang sulit bila dibandingkan jika perempuan yang mengalami. Perempuan telah beradaptasi yang evolusioner dari beratus-ratus tahun yang lampau untuk menghadapi stress. Laki-laki jelas tidak mempunyai pengalaman genetis ini. Sehingga dalam kesulitana-kesulitana misalnya kesulitan ekonomi laki-laki lebih banyak yang stress lalu gila. Apalagi ditambah beban gila-gilaan dari budaya patriarkhi yang menganggap laki-laki itu pemberi nafkah, kepala keluarga, kuat, dan sebagainya.
Patriarkhi tampaknya menjadi hal satu-satunya selain persoalan libido laki-laki yang lebih besar daripada perempuan. Tampaknya juga baik secara psikologis, sosial maupun religi persoalan patriarkhi menjadi sedemikian menentukan dalam selingkuh. Tapi laki-laki juga tidak asal ‘memangsa’ perempuan. Mereka hanya akan menembus perempuan yang rapuh sehingga laki-laki bisa masuk sebagai pahlawan (hero). Perempuan yang menjual cerita tidak jelasnya hubungan perempuan tersebut dengan laki-laki pasangannya, perempuan yang lemah secara ekonomi, perempuan yang lemah secara mental, dan sebagainya. Dan sayangnya banyak perempuan tidak paham akan hal ini.

Mau Nangkanya Tidak Mau Getahnya
Suatu perbuatan tertentu selalu merupakan hasil dari banyak faktor, tidak hanya berupa kecenderungan-kecenderungan yang bersifat tetap, tetapi juga berupa tekanan-tekanan sesaat yang berasal dari dalam individu maupun dari situasi. Hanya perbuatan-perbuatan yang terjadi berulang-ulang dan mengandung makna pribadi yang sama (ekuivalensi respon) mengikuti sejumlah stimulus tertentu yang mengandung arti pribadi yang sama (ekuivalensi stimulus) yang menyebabkan sifat-sifat dan disposisi-disposisi perlu disimpulkan. Kecenderungan-kecenderungan ini tidak selalu aktif, tetapi tetap bertahan sekalipun laten, dan relatif sudah dibangkitkan (Allport, 1961, hal. 374).
Dalam diri individu yang matang kita menemukan seorang pribadi yang tingkah lakunya ditentukan oleh sekumpulan sifat yang terorganisasi dan harmonis. Sifat-sifat ini muncul dengan berbagai cara dari sejumlah kecil perangkat motivasi yang sudah terdapat pada bayi yang baru lahir (neonatus). Bagaimana persisnya kecenderungan-kecenderungan ini berkembang tidaklah begitu penting karena, menurut prinsip otonomi fungsional, kecenderungan-kecenderungan ini tidak lagi mendapat daya motif dari sumber-sumber primitif atau awal, apapun bentuknya. Sebagaimana dikatakan Allport: “Apa saja yang bisa mendorong tingkah laku, akan berfungsi sekarang”, dan kita tidak perlu mengetahui sejarah dorongan tersebut untuk memahami cara kerjanya. Sampai batas-batas tertentu, berfungsinya sifat-sifat ini disadari dan bersifat rasional.
Biasanya, individu yang normal mengetahui apa yang dikerjakannya dan mengapa itu dikerjakannya. Tingkah lakunya mengikuti suatu pola yang harmonis dan pada inti pola ini terdapatlah fungsi-fungsi yang oleh Allport dinamakan proprium (fungsi-fungsi ego). Untuk memahami sepenuhnya orang dewasa mustahil tanpa mengetahui tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasinya. Motif-motifnya terpenting bukan lagi berupa gema masa lampau, melainkan lambaian ajakan masa depan.
Laki-laki yang berselingkuh sebagian besar kemudian mengalami kepanikan ketika perempuan pasangan selingkuhnya menuntut tanggung jawabnya. Kepanikan ini bukan karena persoalan tanggung jawabnya sebenarnya tetapi lebih karena fenomena yang tidak berada dalam kendalinya sepenuhnya. Sehingga permainan menjadi mengejutkan, tidak terduga dan sangat di luar perhitungan. Jadi mereka tidak lari karena tidak bertanggung jawab, tetapi karena permainan yang berubah aturan dan laki-laki mencoba mundur dari gelanggang permainan.
Ketidakteraturan inilah yang di luar takaran risiko laki-laki. Kalkulasi laki-laki tidak sampai pada persoalan tanggung jawab. Laki-laki tidak menghitung risiko dengan cukup matang dan cermat karena ada selubung kegilaan yang membuat laki-laki mempunyai keyakinan semua bisa dikendalikan, semua akan bisa diatur. Pengalaman-pengalaman selingkuh seorang laki-laki akan membangun penguatan-penguatan ‘segalanya bisa diatur dan dikendalikan’. Misalnya pengalaman selingkuh dengan Jeng Xxyzz akan membuat laki-laki berani memastikan untuk mengulang pengalamannya. Lalu dengan pengalaman yang telah dimilikinya laki-laki dengan cara apapun (halus, kasar, menjijikkan, dan lain sebagainya) si perempuan akan bisa diajak damai, berpisah, atau didorong pergi.
Melihat intensitas yang dilakukan, maka laki-laki dalam hubungan selingkuh sebenarnya mempunyai rasa cinta terhadap selingkuhannya. Tentu saja karena sebagai perbuatan yang berulang-ulang maka mustahil tidak ada makna pribadi di dalamnya. Mungkin kadarnya saja yang berbeda. Karena tidak ada orang yang senang berhubungan dengan orang lain secara intens dan berulang tanpa ikatan emosional. Lalu makna pribadi hubungan laki-laki tersebut dengan istrinya? Bisa jadi juga karena cinta, tetapi juga ikatan budaya bahwa laki-laki harus menjadi teladan, pahlawan, pemberi nafkah, contoh bagi anak-anaknya, dan sebagainya. Dan yang lebih jelas, perempuan yang dinikahinya adalah aset ketenangan pikiran. Ini bagian dari cinta juga khan?
Artinya selingkuh juga melibatkan banyak kebutuhan dalam diri seseorang. Hal-hal ini tidak dominan laki-laki saja tetapi juga perempuan. Laiknya seorang manusia yang membutuhkan rasa aman (security feeling). Misalnya kebutuhan makan hari ini dan besok, pendidikan, harta, gengsi, gelar, dan lain sebagainya. Jadi wajar saja jika ada orang yang lebih memilih untuk berhubungan dengan orang lain karena hartanya, gelar, kepastian masa depan, dan sebagainya. Itu naluri alami.
Selain itu selingkuh juga melibatkan kebutuhan untuk keyakinan diri. Kalau orang yang didominasi kebutuhan untuk disayang, dia perlu yakin dirinya tidak terbuang. Inilah yang dimaksud kebutuhan untuk keyakinan diri. Hal ini bisa menimbulkan sindrom primadona complex jika berlebihan ingin menjadi pusat perhatian. Ini sindrom yang banyak diidap perempuan karena sejarah perasaan mereka seringkali menegaskan mereka adalah bagian dari yang terbuang itu.
Setelah dua kebutuhan ini, orang kemudian menginjak pada need assurements. Kadang laki-laki beristri perlu yakin dirinya tidak kehilangan peluang keremajaan dan romansa. Dan ini yang menimbulkan cinta pada selingkuhannya, benar-benar cinta. Sebab perempuan ini memberinya kepastian bahwa dia benar-benar seperti yang dia (laki-laki) inginkan. Sayangnya, sekali lagi dengan semua yang terjadi tersebut laki-laki tidak menakarnya sekaligus dengan risiko-risikonya. Sehingga perubahan aturan permainan membuatnya harus ‘mundur dari gelanggang’.
Kemampuan menakar seluruh aspek (risiko) dengan relaif tepat adalah sebuah ukuran menjadi manusia dewasa, dari situ dia bisa mengayak kebijaksanaannya. Kedewasaan itu sifatnya menyerap. Mungkin sekali tidak ada satu aspek perkembangan yang tidak mengandung bekasnya; tetapi adalah sulit, jika tidak dikatakan tidak mungkin, untuk melepaskan pengaruh-pengaruh belajar. Kedewasaan dan pelajaran bergandengan tangan dalam perkembangan kepribadian (Hall, 1959, hal 99). Makanya dalam tangga kebijaksanaan Erich Fromm di usia 60 tahun ke atas wisdom utama adalah kebijaksanaan. Di usia ini orang normal sudah punya pengalaman yang memberinya petuah hidup dan tugas kebijaksanaan adalah menjadi nilai generasi berikut. []

Tulisan ini disarikan dari diskusi dengan Nona Klutuk. Terima kasih sekali lagi untuk ilmu psikologinya.
Beberapa buku penting dalam tulisan ini:
Calvin S. Hall, Sigmund Freud Suatu Pengantar Ke Dalam Ilmu Jiwa Sigmund Freud. Pustaka Sarjana, Bandung. 1959
Cavin S. Hall & Gardner Lindzey, Teori-teori Sifat dan Behavioralistik Alpport Sheldon Catell Dollard & Miller Skinner. Kanisius, Yogyakarta. 1993
Umar Kayam, Para Priyayi Sebuah Novel. Pustaka Utama Grafiti, Jakarta. 1992

Saturday, August 23, 2008

Termehek-mehek

REALITY show (saya belum menemukan bahasa Indonesia yang tepat untuk ini) semakin banyak saja di layar televisi kita. Macam-macam juga yang ditawarkan kepada pemirsanya. Belakangan ada satu acara reality show dengan nama ‘Termehek-mehek’. Host-nya Panda-Katakan Cinta dan Mandala. Acara ini ditayangkan tiap Sabtu-Minggu pukul 18.30 WIB di Trans-TV. Saya pernah menontonnya beberapa kali, tapi ini bagian penting yang hendak saya tuliskan. Hanya saja akhir-akhir ini saya tidak pernah lagi bisa menonton acara ini. Lumayan sih menurut saya, ya karena memang saya suka acara beginian. Tentunya selain gosip dan infotainment ya.

Teknologi ternyata membuat saya tidak kehilangan begitu saja acara ini. Dengan http://www.youtube.com/ ternyata saya bisa menikmati beberapa episode acara ini. Salah satunya yang berjudul ‘Termehek-mehek 090808’ yang diposting oleh donafiola atau dengan judul ‘termehek mehek. jessica 1-3’ yang diposting oleh dyex23. Ceritanya di episode ini adalah seorang gadis bernama Jessica yang hamil dan ditinggal kekasihnya. Nah, acara ini yang kemudian mencari laki-laki yang bernama Dimas.

Ada satu bagian penting membuat saya memutuskan untuk menuliskan ini di blog saya. Setelah menjelaskan ke Ibunya, Jessica kemudian mencari Dimas ini. Tentu saja memang acara ini dibuat dramatis. Dan memang dramatis. Dicari di tempat kostnya yang ternyata Dimas sudah tidak ada, lalu didapatkan alamat apartemennya. Ternyata disana pun bukan tanpa kesulitan. Dimas dilindungi dan dilarikan oleh seorang bodyguard (kayaknya). Akhirnya diputuskan untuk menemui orang tua Dimas.

Nah, di bagian ini yang penting. Begitu bertemu dengan Ibunya Dimas, Jessica menjelaskan semuanya. Tetapi tidak begitu jelas apa maksudnya, si Ibu ini bilang: “Mbak maaf ya, kalau mbak ada masalah keuangan mbak akan saya bayar.” Ini bagian pentingnya. Saya hanya mau menunjukkan bahwa orang begitu mudah menganggap masalah cukup bisa diselesaikan dengan uang. Padahal yang dihadapi si Ibu adalah seorang perempuan yang hamil karena anak laki-laki nya. Oya, di rumah si Ibu ini memang banyak bertebaran mobil mewah.

Brengseknya lagi, si laki-laki yang bernama Dimas ini pun ketika pertama kali ditanya Ibunya apakah mengenal si Jessica, dia bilang tidak mengenalnya. Bahkan dalam satu adegan yang diambil secara diam-diam oleh kameraman, terlihat Jessica sampai harus bersimpuh-simpuh ke Ibu si Dimas ini. Akhirnya? Tidak ada akhirnya. Karena si Jessica keluar begitu saja setelah adegan bersimpuh-simpuh itu, setelah sebelumnya menampar Dimas, tanpa memberi penjelasan.

Silahkan menontonnya di:
http://www.youtube.com/watch?v=Bu53JeVV1qI
http://www.youtube.com/watch?v=RAY3zB5kKUY&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=Wtoep9HrxzA&feature=related

Atau di
http://www.youtube.com/watch?v=EQ17vwyGMZM&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=YhQQYC6goew&feature=related
http://www.youtube.com/watch?v=MYqhKDPmP8M&feature=related

Ini bukan untuk mengiklankan acara ‘Termehek-mehek’, tapi lebih dari itu ini adalah kampanye untuk melawan kegilaan dan arogansi orang-orang yang punya kuasa dan uang. Apalagi jika persoalannya ada kemanusiaan dan manusia. []

Wednesday, August 06, 2008

Serong, Sensasi dan Masokisme*

opera jawaSERONG dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 2 diartikan sebagai 1) tidak lurus (tt arah); menyimpang dari garis (arah) yang lurus; menyudut (tidak merupakan siku-siku); mencong: tulisannya ... sedikit; 2) tidak sebagaimana mestinya; menyimpang dari arah yang lurus: berjalan ...; 3) curang; tidak lurus hati; tidak jujur: berbuat (berlaku)...; 4) tidak setia; tidak tulus hati: berbuat ... dalam perkawinan adalah perbuatan yang tidak terpuji. Namun serong sendiri juga ada sebagai padanan kata selingkuh. Masih dari KBBI Edisi 2, selingkuh diartikan sebagai 1) suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2) suka menggelapkan uang; korup; 3) suka menyeleweng.

Melihat arti dari kedua kata tersebut di atas, maka pilihan kata serong untuk seorang pasangan yang menjalin hubungan dengan pasangan yang lain dirasa lebih tepat. Ya kata selingkuh boleh dipakai jika perbuatan yang dilakukan menjadi simptom, yang artinya berulang-ulang dilakukan. Karena yang berlaku sebenarnya bukan hanya perbuatan tapi juga berkait dengan hati dan pikiran. Jadi dalam khasanah Freudian ini merupakan dorongan purba yang tidak bisa dikontrol oleh otak. Karena disanalah sedang terjadi pergumulan antara Id dan Super-ego yang seharusnya ditengahi oleh Ego. Dalam banyak hal Ego kemudian tidak mampu menjadi penengah.

Sebagai pelaksanaan dari dorongan naluriah yang “harus” dipenuhi, perbuatan serong ini sebenarnya usaha untuk memenuhi dorongan tubuh dan mental. Dorongan tubuh dapat berupa makan, minum, seks, dan lain-lain. Sementara dorongan mental mewujud pada perasaan ingin diperhatikan, disayang, membalas dendam, egoisme, dan lain-lain. Tentu dalam banyak hal pasangan dari seorang yang melakukan perbuatan serong akan mengalami kebingungan menganalisa kenapa pasangannya selingkuh. Apalagi jika hanya menganalisa dari segi dorongan tubuh. Sayangnya dorongan mental tidak sepenuhnya diketahui oleh orang awam. Atau dengan kata lain mereka pun sebenarnya telah merasa memberi perhatian, menyayangi, mengasihi, dan sebagainya.

Dalam kasus serong atau selingkuh, lebih sering kedua pihak yang melakukan hubungan gelap (kadang terang benderang) tersebut sangat sadar dengan apa yang mereka lakukan. Itu jauh lebih banyak daripada kejadian serupa dengan salah satu dari yang terlibat hubungan selingkuh itu melakukannya karena ditipu oleh pihak lainnya yang merupakan orang yang serong. Namun, efek terpuaskannya dorongan naluriah tadi mampu membuat kontrol diri terbungkam; tahu dan sadar atas suatu hal tidak memberi dampak apa-apa. Nona Klutuk, seorang teman lama saya, menjelaskan bahwa situasi semacam ini seperti seorang yang ketagihan kondisi delirium dari konsumsi minuman keras atau zat adiktif dan lantas menjadi pencuri kambuhan atau malah pencuri profesional. Si pencuri itu, yang tentu saja berdusta bila bilang tidak tahu mencuri adalah kriminalitas, kemudian membelanjakan hasil curiannya untuk minuman keras atau obat-obatan terlarang. Itu dilakukan berulang kali sampai-sampai terasa sebagai hal yang benar untuk dijalani. Bila si pencuri ini tidak terlalu sibuk mencuri serta konstan dalam delirium-nya, bisa jadi ada saat dia tergugah oleh panggilan nuraninya untuk berhenti mencuri, berhenti melakukan perbuatan yang dia tahu tidak sepantasnya dia lakukan. Itu kalau dia secara sendirian bisa berada dalam jarak cukup dari kondisi dirinya yang mabuk, mampu cukup punya keseimbangan dinamika kepribadian yang membuat super-egonya bisa bekerja cukup untuk menyeimbangkan id, sehingga egonya—rasionalitas dan intuisinya bisa melakukan penilaian situasi secara lebih berpijak pada segala ruwet mawutnya jaringan realitas di sekitar dirinya.

Celaka bila si pencuri selalu saja dalam keadaan mabuk konstan dan terlalu sibuk mencuri. Bisa jadi, hanya kejadian luar biasa yang di luar keinginannya yang bisa mencabut dia dari realitas semu bahwa kelakukannya adalah bukan kriminalitas. Lain kata, mereka akan kembali sadar atau (pura-pura) mendadak tahu kelakuan kriminalnya setelah mendapatkan pukulan atau amukan dari pihak luar. Sudah dihajar pun, maling pemabuk sering membela diri dia mencuri demi ini itu, karena terpaksa, karena digoda keinginan.

Tanpa bermaksud jadi normatif dan moralis fanatik, dengan uraiannya itu si Nona membeberkan analogi yang cukup simpel untuk membantu memahami mengapa seorang mau berbuat serong atau selingkuh dengan seorang perempuan atau laki-laki yang sudah punya pasangan, bahkan banyak yang sudah secara hukum sah terikat sebagai suami istri. Bila tidak ada faktor-faktor lain yang lebih rumit dan menekan, dari analogi Nona tadi hubungan dengan orang yang sudah berpasangan adalah pemenuhan egoisme, merasa bangga dan senang jika dapat dipuja. Sensasilah disini yang bermain. Kondisi mabuk yang ingin berulang kali dikecap, tak jarang ingin dijadikan kenyataan.

Persoalannya, akhir-akhir ini saya menemui fenomena betapa banyak perempuan yang mengaku aktivis feminis mengalami persoalan semacam itu, tepatnya saya dihampiri oleh beberapa perempuan feminis (?) yang mengusung persoalan berkait ataupun bersumber dari hubungan semacam itu. Mereka menjalin hubungan dengan laki-laki beristri atau punya relasi dengan orang lain. Bukan maksud saya menggeneralisir semua laki-laki itu bajingan, namun saya memang tidak menyoroti “tentang bagaimana” dan “tentang apakah” pada lelaki karena hampir bisa dipastikan lelaki yang mempunyai pasangan dan ditambah pula dia tidak terlibat dalam kerumitan dan tekanan di luar kewajaran dalam hubungan dengan pasangan resminya, tapi sengaja berselingkuh, jelas seorang oportunis yang tidak menyia-nyiakan kesempatan (yang kadang tidak alamiah—melainkan hasil ciptaannya), dan hampir dapat dipastikan pula oportunis kelas kecoak begitu akan tunggang langgang membersihkan diri dari segala risiko. Lelaki jenis coro begini jelas tidak innocent karena mengeksploitasi (terutama emosi) perempuan dan secara luas mempersulit posisi laki-laki lain yang sadar akan dan ikut mendukung kesetaraan gender.

Persoalan yang menggelitik saya, yang makin kental belakangan karena saya makin kerap didatangi perempuan-perempuan muda yang terdidik dan cukup memiliki pikiran maju (bahkan tanpa ragu mengatakan dirinya feminis), adalah kenyataan bahwa dalam status dan keterbukaan pikiran mereka atas ketidakadilan gender yang berurat akar pada patriarki, mereka dengan sengaja menjalin hubungan dengan suami orang lain. Pertanyaan-pertanyaan saya: 1) apakah mereka tidak sadar bahwa yang mereka lakukan itu secara sekaligus sedang menghancurkan perempuan lain?; 2) apakah mereka tidak sadar bahwa dalam relasi ‘sembunyi-sembunyi’ semacam itu dialah yang akan dirugikan?; 3) apakah mereka tidak tahu bahwa suatu saat laki-laki itu akan meninggalkannya dan kembali kepada kemapanan yang telah dibangunnya?. Jawaban dari semua pertanyaan saya itu (betapa mengagetkannya!!) tenyata adalah mereka sadar dan tahu. Ini jawaban dari mereka saat saya bertanya, bukan kesimpulan yang saya rangkai dari mana-mana.

Berpapasan dengan Nona Klutuk di jagad maya, dalam perjalanan singkat saya tergopoh membuntuti dia menyusuri ruang-ruang tempatnya biasa memuaskan diri mengunduh buku-buku bajakan, kami berbincang tentang adanya tiga kemungkinan perempuan yang melakukan hal ini. Pertama, perempuan ini senang dengan perasaan deg-degan karena khawatir. Khawatir ini bisa mengambil bentuk apa saja dan juga bisa berasal dari mana saja, efeknya memacu adrenalin dan gairah sebagaimana efek ketegangan dinikmati oleh pelaku olah raga ekstrim. Kedua, dia senang dengan rasa ‘mencuri’ dan bahkan menyukai tindakan “mencuri” sebagaimana penderita kleptomania berada dalam serangan demam obsesi-kompulsif. Ketiga, perempuan ini senang dengan ‘perasaan menang’ yang sementara dan bahkan bila tidak mau kembali ke dunia nyata, dia berulang kali menyuntikkan keyakinan palsu pada dirinya bahwa si lelaki yang berselingkuh ini menyintainya lebih daripada istri di rumah; membangun delusi di mana dirinya memerankan tokoh pujaan dalam drama tragedi dengan naskah seburuk script sinetron kejar tayang. Sementara untuk menjelaskan bagaimana mungkin orang yang sadar dan tahu bahwa yang dilakukannya itu akan menimbulkan rasa sakit tetapi tetap saja dilakukan, dikejar-kejar, diulangi berkali-kali, Nona Klutuk mengatakan bahwa sebenarnya banyak dari kita adalah masokis. Dalam beberapa hal banyak orang yang mencari dan menikmati ‘siksaan’.

Di sisi yang lain, laki-laki akan lebih banyak diuntungkan dengan kondisi semacam ini. Terutama karena situasi masyarakat yang masih sangat patriarki, yang tentu akan lebih permisif pada laki-laki yang berbuat serong atau selingkuh dibandingkan dengan perempuan. Tak akan ada yang sanggup menghitung berapa banyak perempuan yang menjadi korban dari sistem salah kaprah, timpang, dan tidak adil ini. Hingga sekarangpun, sebagian besar perempuan tidak sadar mereka hidup dalam budaya patriarki yang membuat diri mereka dalam intaian sebagai calon mangsa ketidakadilan jender, sementara sebagian terbesar laki-laki menikmati privilege mereka sebagai berkah bawaan (given).

Sayangnya, ketidaktahuan macam itu bukan situasi diri perempuan dalam berbagai kasus nona-nona “feminis’ muda yang dicampakkan kekasih mereka yang kembali pada pasangan resminya, perempuan-perempuan maju yang menggenggam beribu potensi besar tapi datang pada saya dengan kecengengan tidak masuk akal khas ketidakmutuan sinetron televisi. Persoalan mereka dimulai dengan sadar dan sepenuhnya dalam rentang kondisi mereka sebagai perempuan progresif. Bahkan beberapa adalah aktivis hak-hak kaum perempuan; sudah menjadi, bukan mereka menjadi aktivis setelah mereka menjadi korban. Ini lebih diperparah dengan upaya mereka kemudian mengecap dan memosisikan diri sebagai korban, dan makin diperparah lagi absurditasnya saat mereka makin menuruti emosi hingga berbenturan dengan si lelaki, pasangannya, bahkan kewarasannya sendiri. Hal ini justru memperkuat budaya patriarki karena memperlihatkan betapa lemah dan tak berotaknya perempuan. Secara sarkastik dapat dikatakan: jelas laki-laki tidak menolak bangkai, dan dalam hubungan yang sejak semula dia ketahui potensinya lebih besar merugikan dirinya, si perempuan ini malah membuka celah makin besar pada si lelaki untuk menggali beribu alasan.

Dalam kekalapan mereka tidak sanggup kembali pada realita hubungan yang semata perselingkuhan, gilanya, menuntut dan menyuarakan diri sebagai korban dianggap sebagai jalan penyadaran atau usaha mendapatkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Ini sungguh sukar saya mengerti: gadis-gadis ini berulang kali menyatakan dirinya sadar hubungan macam apa yang dulu telah dia mulai, kini berusaha mendapatkan posisi setara dengan berteriak dirinya adalah korban. Tentu tidak bisa. Budaya dan adat ribuan tahun yang telah menjadi archetype tidak bisa dengan serta merta dirubah. Mengubah budaya dan adat yang telah menjadi mikro fosil dalam darah manusia itu dibutuhkan waktu dan kegigihan. Perempuan yang menjadi korban (dan bisa dikatakan semua perempuan adalah korban dalam budaya partriarki) yang kemudian bangkit untuk mengubah nilai dan pratik patriarki yang akan mampu mengubah alur hitam ketidaksetaraan gender dalam ribuan tahun sejarah umat manusia. TAPI BUKAN lantas perempuan ini (karena dengan satu dan lain bentuk relasi percintaan diakhiri atau ditarik ulur oleh kekasih yang beristri) secara egois, masif, dan obsesif melabelkan diri sebagai korban padahal sebelumnya sadar-giat-suka-rela menjalankan peran aktif dalam membantu si lelaki menjadikan perempuan lain sebagai korban.

Seharusnya perempuan itu sadar sebatas apa hubungannya dengan laki-laki beristri itu. Tak bisa lantas berulang kali berkilah, “tapi kami saling menyayangi” atau “tapi aku tahu benar dia mencintaiku seperti aku padanya”. Nona Klutuk, yang sudah selesai pula mengunduh novel incarannya, menutup diskusi kami dengan pernyataan ironis: itu lebih kacau lagi campur baur rasionalitas dan khayalannya, sebab sayang/cinta dan nafsu meski seiring sejalan tetaplah dua hal yang bisa dipilah. Sayang itu dari hati, tapi kemauan bercumbu dan ingin memiliki itu banyak campurannya. Atau dalam bahasa yang lain nafsu. Lagipula kalau mau ‘nikmatin hal yang enggak-enggak ya cukup lakukan saja yang enggak-enggak itu’ toh tahu risiko dan konsekwensinya. Dengan mengetahui bahwa ada risiko dan konsekwensi itulah maka pihak yang berkepentingan seharusnya dengan sadar tidak ngakngik nggak karuan. Toh seharusnya sejak awal disadari bahwa dalam berelasi itu semuanya permainan. Dan setiap orang senang bermain-main, karena ingin menang dan senang. []

*Tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan ini merupakan hasil diskusi panjang bertahun-tahun dengan Nona Klutuk. Jangan sembunyi terus.

Sunday, July 20, 2008

Kucing dan Ikan Asin

KASUS Machica-Moerdiono sudah jamak terjadi di dalam masyarakat kita. Kebetulan saja Moerdiono adalah (bekas) orang penting sehingga kasusnya menjadi bagian dari berita-berita di media. Mengikut di belakangnya ada kasus serupa yang dialami Sandy Harun, Mayangsari, Angel Elga dan banyak lagi. Perempuan selalu menjadi bulan-bulanan dalam kasus ini. Dalam hubungan cinta atau seks di luar jalur resmi, perempuanlah yang selalu berada di bayang kesalahan.



Di tengah masyarakat kasus semacam ini juga banyak, hanya saja memang tidak diliput oleh media. Sulit dibayangkan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan umumnya yang bukan selebritis (orang penting) dalam menghadapi kasus semacam ini. Mulai dari tekanan sosial dari lingkungannya hingga pada hal yang paling rendah adalah mereka tidak bisa menyuarakan apa kebenaran menurut versinya. Sederet selebritis yang mengalami kasus ‘pertumpahan sperma tidak resmi’ masih beruntung karena punya akses ke media dan punya cukup pengacara. Tetapi bukan berarti mereka tidak menderita, mereka menderita dan tetap sebagai korban.


Sayangnya dalam kasus semacam ini, perempuanlah yang selalu dianggap ‘memulai’. Atau dalam ucapan yang sering terdengar di masyarakat: mana ada kucing dikasih ikan asin tidak mau. Ucapan tersebut mengandaikan bahwa laki-laki (kucing) hanya bersifat mengikuti ‘rangsangan’ akibat tawaran berupa ikan asin (perempuan). Dampak dari term tersebut sangat luar biasa. Masyarakat menjadi sedemikian stereotip melihat persoalan hubungan laki-laki perempuan di jalur resmi bahwa perempuanlah yang menggoda, memulai, merusak, dan sebagainya.


Memang juga bahwa dalam kasus semacam ini perempuan juga berandil dalam menciptakan ‘kesalahan’, tetapi yang harus dicatat adalah bahwa kesalahan itu tidak bisa dilepaskan dari sifat resiproksalnya. Tidak mungkin akan terjadi jika hanya perempuan saja yang memulai, pun tidak akan terjadi jika laki-laki saja yang berinisiatif. Semua bersifat saling, terhubung dan sangat dependen. Ini yang harus dipahami baik oleh yang berkasus, juga oleh masyarakat. Dengan demikian upaya menciptakan kesetaraan dan keadilan dalam menyelesaikan kasus semacam ini tidak hanya menempatkan perempuan sebagai faktor yang paling bersalah.


Dalam perkembangannya kasus semacam ini kemudian laki-laki merasa bahwa tidak selalu harus perempuan yang merupakan korban. Pernah ada kasus seperti ini, lalu laki-laki yang berkasus itu berkata: ‘Kenapa akhirnya perempuan yang selalu diposisikan sebagai korban!? Sepertinya mereka bebas dari perbuatan berkuasa saja.’ Tidak jelas apa yang dimaksud dengan ‘bebas dari perbuatan berkuasa’, tetapi sangat jelas ditangkap bahwa dia (sebagai laki-laki) tidak mau menerima jika perempuan yang akhirnya menjadi korban.


Sebenarnya sangat sederhana saja melihat hal ini. Bisa kita lihat dari kasus Mayangsari. Media atau siapa orang yang kemudian menyorot/melihat kasus ini sebagai kesalah Bambang Hutomo? Jika ada itu pun sangat sedikit. Media lebih senang mengintai dan menguntit Mayangsari. Bahkan dalam beberapa kesempatan media lebih memilih menempatkan Mayangsari sebagai perusak rumah tangga Bambang dan Halimah. Termasuk juga usaha untuk meyakinkan bahwa Mayangsari telah menggunakan guna-guna untuk memikat Bambang. Artinya Bambang tidak bersalah/berdosa, dia hanya pasif. Media dan masyarakat belum mau mengubah cara pandangnya dengan melihat bahwa Bambanglah yang mempunyai kehendak dalam ‘berhubungan’ dengan Mayangsari. Atau setidaknya mereka berdua sama-sama mau dan berminat.


Dari kasus-kasus seperti itu terlihat dengan jelas bahwa perempuanlah korbannya. Bahkan ketika proses itu dimulai pun, perempuan sebenarnya telah menjadi korban. Ya, sekali lagi karena tata-pikir masyarakat (laki-laki) cenderung melihat bahwa perempuan lemah dan pasti akan mau dengan mereka bahkan dalam posisi, situasi dan status yang disandang oleh laki-laki. Celah inilah yang memungkinkan terjadinya abuse (penyalahgunaan) posisi yang tidak setara tersebut untuk menjalin relasi. Apalagi terhadap perempuan-perempuan yang mempunyai sematan kerentanan yang lain seperti kemiskinan, status sosial yang lebih rendah, relasi kekuasaan dalam pekerjaan, dan sebagainya. Perempuan semacam ini akan lebih sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Bahkan sebagai korban pun mereka akan kesulitan untuk melawan dan bersuara.


Ironisnya, logika kucing dan ikan asin ini menjadi massal dipahami oleh hampir seluruh masyarakat. Pun juga mereka yang tengah giat berkarya untuk demokrasi, keadilan, moralitas dan apapun. Tentu sulit karena hal semacam ini telah sangat sistemik, walaupun itu bukan berarti tidak bisa. Inilah patriarki. []