Showing posts with label oleholeh. Show all posts
Showing posts with label oleholeh. Show all posts

Thursday, March 19, 2009

Mala

“… di tengah kencangnya desakan regulasi atas berbagai malapraktik bisnis yang membawa dunia terperosok ke dalam malapetaka ekonomi dewasa ini …” (B Herry Priyono, Menimbang Ulang Kapitalisme, Kompas, 18 Maret 2009).
Ada enam arti kata ‘mala’ yang dapat ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Ketiga. Namun ‘mala’ dalam malapraktik dan malapetaka merupakan bentuk terikat buruk; tidak normal. Jadi malapraktik berarti praktik kedokteran yang salah, tidak tepat, menyalahi undang-undang atau kode etik. Dan malapetaka berarti sebagai kecelakaan; kesengsaraan; musibah.
Penggunaan kata ‘mala’ sebagai bentuk terikat buruk ini juga bisa digunakan dalam malabau. Jadi ‘pendirian pabrik kimia di pemukiman padat penduduk dikhawatirkan menimbulkan malabau’. Malabau dapat dipakai sebagai kata ganti untuk arti bau tidak sedap. Tetapi tampaknya masih banyak yang enggan menggunakan kata ‘mala’ ini. Sebagai bangsa Indonesia, masyarakat lebih cenderung mengabsorpsi kata atau ejaan bahasa asing. Terjadi malafungsi penggunaan bahasa asing di tengah-tengah bahasa keseharian kita.
Sehingga orang akan lebih suka dan cenderung menggunakan kata abuse of power terkait dengan penyalahgunaan kekuasaan. Seolah dengan menggunakan pilihan kata asing orang akan terlihat lebih bonafide dan intelektual. Tidak ubahnya membuat ahli-ahli kita menjadi intelektual salon yang bertebaran kata-kata asing dan sulit dimengerti awam. Maklum dengan begitu, gengsi akan lebih terangkat. Yang artinya juga akan mengangkat derajatnya sebagai orang yang mempunyai perbendaharaan kata asing paling banyak.
Malatindak yang di dalam KBBI Edisi Ketiga berarti sebagai penyalahgunaan jabatan; tindak kejahatan (berkenaan dengan jabatan), lebih tidak populer dibandingkan dengan kata abuse. Di forum, jurnal atau artikel ilmiah kata abuse lebih akrab ditemukan daripada kata ‘malatindak’. Bentuk terikat buruk dari kata ‘mala’ ternyata belum menjadi pilihan yang enak digunakan oleh pengguna bahasa Indonesia (masyarakat Indonesia). []

Saturday, November 08, 2008

Galih

GALIH dalam bahasa Indonesia berarti teras kayu yang keras dan berwarna hitam karena tuanya. Dalam bahasa Jawa, galih mempunyai makna sebagai perasaan terdalam seseorang. Berasal dari kata penggalih sebuah kata krama inggil (kata dalam strata tertinggi dalam bahasa Jawa) yang berarti perasaan, rasa, kalbu. Umar Kayam dalam Para Prijaji menggunakannya sebagai sebuah simbolisasi (sanepan) dalam nama sebuah desa yaitu Wanagalih. Wana yang merujuk pada hutan dan galih pada perasaan terdalam. Bukankah belantara hutan identik dengan pohon-pohon besar dengan galih yang berlapis-lapis karena waktu?
Mangunwijaya dalam Rara Mendut juga menggunakan kata galih. Dalam percakapan antara Rara Mendut dan Genduk Duku tentang keperawanan. Begini satu kalimat yang dapat dikutip tentang percakapan mereka: “Ini, Nduk. Ibuku selalu berpesan kepada Mendut, ‘Perawan dan tidak perawan terletak pada tekad batin, pada galih di dalammu.’ Banyak gadis di dalam peperangan diperkosa, kata ibuku, Nduk, tetapi bila itu melawan kemauan, mereka masih perawan. Dewi Sinta, Nduk Duku, seandainya pun dia sudah ditiduri Rahwana. Dewi Sinta yang melawan, tetaplah perawan. Bahkan ibuku berkata, dan biar ibuku hanya perempuan desa tetapi saya percaya ibuku benar, ‘Seorang ibu yang sudah melahirkan anak tujuh pun, bila dia suci dalam pengabdiannya selaku istri setia dan ibu, dia pun perawan dalam arti yang sejati.’ .....”
Sebagai sebuah lapis terdalam dalam diri seseorang, galih tentu juga menjadi simbolisasi tentang betapa sebuah perasaan terdalam kuat atau lemahnya terbentuk oleh usia. Usiapun tidak harafiah berarti umur biologis. Lapis terdalam inilah yang menjadi patokan untuk menilai kualitas. Berkait dengan pohon, galih menjadi ukuran untuk menilai kualitas kayu yang bagus dan tidak. Untuk orang, galih juga menjadi alat ukur kebijakan dan kedewasaan orang seorang dalam menghadapi hidup dan kehidupan. []

Monday, October 13, 2008

Puisi di Lembaran Buku Usang

PAGI-pagi membawa saya iseng untuk membuka buku tulis lama saya. Ternyata saya menemukan puisi-puisi saya yang berserak. Masih dengan tulisan tangan. Hmm, cukup rajin juga saya menulis waktu itu. Itu sekitar lima tahun yang lalu. Ini beberapa puisi yang sempat saya salin.

Janji

Janjiku,
Seperti janji Bima pada Drupadi
Membasuh malu dengan darah Dursasana
Hanya darah yang mampu menuliskan
Kesucian di atas permukaaan sungai Gangga
Yk, 11 Okt 2002

Judi

Aku berjudi, seperti Yudhistira. Kupertaruhkan semua
Juga nyawa dan kehormatan. Arena telah tergelar
Buah dadu telah berkata atas kekalahan. Tak ada yang tersisa
(Bukankah aku titisan kebijakan Batara Dharma?)

Yk, 3 Nov 2002

Drupadi

Drupadi, kau teriakkan sengau ketika bertanya:
“hak apa suami mempertaruhkan istrinya?”
Dan Yudhistira adalah kebijaksanaan
Yang memasangmu di atas meja pertaruhan.

Lantas siapa menjawab tanyamu?

Yk, 15 Jan 2003

Nakula-Sadewa

Tahu apa kakak-kakakku tentang cinta,
Arjuna dan Bima lebih terhanyut pada alam masa kanaknya
Bergolak gejolak naluriahnya: wanita dan asmara adalah cinta.
Yudhistira terlalu cepat memilih menjadi pertapa
Malam-malamnya dipenuhi asap dupa japa mantra
Itulah cinta baginya.
Bagi kita, cinta sewajarnya adalah kabar kedewasaan menjadi kesetiaan.

Yk, 13 Okt 2008

Monday, September 22, 2008

Unggah dan Unduh

SAYA menemukan kata unggah beberapa minggu yang lalu ketika hendak meng-upload sebuah gambar dalam blog saya. Takjub juga saya dengan hal itu, unggah menjadi bahasa Indonesia bagi upload. Sama halnya dengan unduh bagi download. Proses penyerapan bahasa atau istilah asing merupakan cara untuk tetap mempertahankan bahasa Indonesia tanpa harus beralih menggunakan bahasa negeri orang. Sehingga menjadi penting bagi kita untuk terus menambah dan memperkaya kata dalam bahasa kita. Tanpa sadar sebenarnya dalam keseharian lisan maupun tulisan mungkin kita hanya menggunakan 200-300 kata saja, bahkan bisa jadi kurang dari itu.
Penemuan kata-kata baru ini muncul juga karena kesepakatan bersama dan kelaziman secara umum. Penggunaan kata heboh misalnya. Kata ini sejarahnya baru digunakan setelah peristiwa Tanjung Morawa 6 Juni 1953 di Sumatera Utara. Sebuah peristiwa pendudukan sepihak tanah bekas perkebunan oleh para tani dan buruh yang digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Mohammad Sjaaf, wartawan Abadi, yang meliput peristiwa tersebut menuliskan kehebohan peristiwa Tanjung Morawa di surat kabarnya. Kata heboh kemudian menasional dan menjadi lazim digunakan untuk mengganti kata “gaduh”, “ribu”, “huru-hara”. Kata ini bagi penduduk setempat sudah dikenal dalam keseharian. Sekarang apa arti kata “heboh” bagi kita? Bayangkan percakapan remaja seperti ini: “Heboh banget sih pakaiannya? Emang mau kondangan?”. Hmm, tampaknya heboh menjadi kata yang harus diperikan ulang.
Begitu pula dengan kata gengsi yang ditemukan oleh Rosihan Anwar. Kata ini juga dimulai dari usaha Rosihan Anwar menggantikan kata prestige. Peristiwa yang melatarinya adalah Agresi Militer Belanda kedua pada tahun 1949. Keengganan Belanda melakukan perundingan dengan Indonesia cenderung lebih disebabkan soal prestige. Hal ini kemudian dituliskan dalam majalah Siasat di Jakarta dengan menggunakan kata gengsi. Kata ini menurut Rosihan Anwar dipungut dari perbendaharaan bahasa remaja di Minangkabau. Namun sekarang prestige telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi prestise, yang berarti wibawa (perbawa) yang berkenaan dengan prestasi atau kemampuan seseorang.
Temuan kata-kata baru merupakan temuan dari tiap-tiap zaman juga. Seperti kata anda yang pertama kali diterbitkan dalam harian Pedoman 28 Februari 1957. Ini awalnya, menurut Sutan Takdir Alisjahbana, merupakan uji coba untuk menghilangkan feodalisme atau hierakhi dalam penggunaan kata ganti atau pronouns dalam bahasa Indonesia. Diharapkan kata anda dapat menggantikan keserbaragaman kata yang dipakai buat menyapa “orang kedua”. Setidaknya anda dapat menjadi serupa dengan kata you dalam bahasa Inggris yang dapat dipakai guna menyapa setiap orang, tua atau muda, berkedudukan sosial tinggi atau rendah.
Kata anda sendiri ditemukan oleh seorang perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), Kapten Sabirin. Ia mendapatkan kata anda dari Kamus Modern Bahasa Indonesia karangan Sutan Mohamad Zain. Arti kata anda ialah “yang mulia” atau “yang terhormat”. Konsultasi Kapten Sabirin dengan Sutan Mohamad Zain, mendapat mufakat untuk memakai kata anda menggantikan kata you. Kata anda sendiri asal mulanya terdiri dari satu kata yakni kata ra dari bahasa Kawi dan berarti ‘yang mulia’. Lama-kelamaan kata itu berubah menjadi da. Perkataan ratu atau datu berarti ‘orang yang mulia’. Awalan an datangnya kemudian. Saat ini apakah Anda masih menggunakan kata anda dalam percakapan sehari-hari? Sepengetahuan saya, anda telah banyak diganti dengan kata lu, kau, dan kamu.
Sepertinya unggah dan unduh juga pantas diperlakukan sebagai sebuah temuan yang memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Walaupun menurut seorang teman saya yang bekerja di sebuah kantor berita online, kata unduh tidak terlalu tepat untuk download. Menurutnya unduh yang berasal dari bahasa Jawa berarti memanen. Jika memanen tentunya buah yang dipanen tidak ada lagi. Tetapi untuk download, file yang diunduh masih tetap ada. Hal-hal seperti ini tidak menjadi masalah. Seperti tidak semua orang sepakat dengan kata anda ketika pertama kali dipopulerkan. Bahkan Harian Rakjat yang selalu bertentangan dengan Pedoman menyatakan ketidaksetujuannya dan mengajukan istilah tandingan yakni andika. Namun masyarakat tampaknya lebih memilih menggunakan anda sehingga andika tenggelam tanpa ada kabarnya lagi.
Tentu saja semua kata yang ditemukan dan digali tidak semuanya tepat, tetapi jaman dan masyarakatlah yang akan membuat kesepakatan atas setiap kata dalam bahasa setiap bangsa.[]

*Ditulis dengan merujuk pada H. Rosihan Anwar, Bahasa Jurnalistik dan Komposisi (Cetakan Keempat). Pradnya Paramita, Jakarta. 1991

Sunday, July 13, 2008

Bancakan

BANCAKAN atau dalam bahasa Indonesianya syukuran juga dikenal dengan nama selametan merupakan bagian tradisi yang hidup dalam masyarakat Jawa. Hampir setiap peristiwa dalam masyarakat Jawa selalu dipenuhi dengan ritual bancakan ini. Mulai dari kehamilan, kelahiran,kematian atau bahkan hal-hal lain. Saat ini bancakan hanya menjadi ritual saja, maknanya hampir-hampir telah hilang.

Secara esensi, di luar yang bersifat spiritual (batiniah), bancakan sendiri mengemban pesan penting dalam hubungan kemasyarakatan. Keselarasan dan harmoni menjadi dasar utama setiap laku yang diwujudkan itu. Bancakan memang satu fungsi utamanya adalah untuk menunjukkan rasa syukur (doa) kepada Yang Maha Kuasa.




Di luar fungsi utama itu, bancakan telah mengambil peran untuk merekatkan ikatan kemasyarakatan. Setiap hajat yang disertai dengan bancakan ini, selalu ditandai dengan kedatangan tetangga dan sanak saudara. Ikatan-ikatan yang mulai longgar sebagai akibat interaksi keseharian, kemudian kembali menguat dengan adanya bancakan yang dilakukan oleh seseorang. Bincang-bincang di awal atau akhir prosesi bancakan setidaknya telah mencairkan kebekuan yang diakibatkan berbagai konflik keseharian.




Dalam masyarakat Jawa konflik memang bersifat beku atau dingin. Hal ini sangat erat berhubungan dengan budaya masyarakat Jawa yang tertutup dan tidak ekspresif. Bagi mereka konflik lebih banyak disimpan. Tidak mengherankan jika tradisi balas dendam karena sebuah konflik bagi masyarakat Jawa selalu diselesaikan dalam wilayah metafisika. Disinilah peran tenung, santet, tuju, dan berbagai hal klenik lain menjadi lebih banyak dalam penyelesaian konflik dalam masyarakat Jawa.




Prosesi bancakan yang mengharuskan orang berbaur dan melupakan segala konflik/persoalan itulah yang membuat ikatan kemasyarakatan kembali menguat. Bancakan juga berperan dalam menyebarkan informasi secara meluas atas suatu hal. Bahkan yang punya hajat pun berkepentingan untuk menyebarkan informasi tentang keluarganya. Sehingga dalam setiap bancakan selalu disebutkan alasan apa yang membuat sebuah bancakan diselenggarakan. Sangat biasa di dalam sebuah prosesi bancakan disebutkan apa hajat orang yang bersangkutan.




Bukan hal yang mengherankan juga jika sebuah bancakan diadakan hanya untuk memperingati hari kelahiran seseorang. Bagi masyarakat Jawa hal ini penting, selain untuk bersyukur juga secara tersirat untuk memberikan informasi kepada masyarakat sekitarnya tentang hari kelahiran seseorang. Pengetahuan tentang hari lahir seseorang bagi masyarakat Jawa sangat penting untuk secara tidak langsung mengetahui bagaimana watak orang bersangkutan. Ingat, masyarakat Jawa sangat mendasarkan segala sesuatu berdasarkan perhitungan hari lahir (weton) termasuk juga watak seseorang. Rasa dalam hal ini menjadi sangat berperan dalam memaknai prosesi ini.




Sisi yang lain dari bancakan adalah distribusi kesejahteraan atau berbagi dengan tetangga. Orang yang menyelenggarakan bancakan dalam ukuran yang besar biasanya mempunyai kesejahteraan yang tinggi pula. Tetapi bukan berarti orang yang berada di tingkat kesejahteraan rendah tidak menyelenggarakan bancakan. Dalam kondisi paling minimal sekalipun bancakan perlu diadakan untuk hal-hal terkait dengan keselarasan. Terutama jika merujuk pada falsafah Jawa bahwa keselamatan seseorang tergantung keselarasan lingkungan kosmiknya.




Dengan kata lain bancakan-pun tidak bisa dihitung sebagai pemerataan kemiskinan, karena setiap hajatan yang diselenggarakan akan dengan sendirinya mendapatkan bantuan dan perhatian dari orang lain. Siklus seperti ini berjalan terus. Saling membantu dan menopang. Pemahaman bahwa jika mereka mengadakan bancakan adalah menselaraskan lingkungannya merupakan bagian penting dalam usaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Masyarakat Jawa sangat paham bahwa jika krisis (apapun bentuknya: ekonomi, keluarga, dan sebagainya) tidak dibagi dengan yang lain itu berarti awal dari ketidakselarasan. Artinya itu merupakan awal dari bahaya bagi diri mereka sendiri.




Masyarakat Jawa sangat percaya bahwa manusia dianggap saling berkaitan dengan fenomena lainnya sehingga bersama-sama membentuk eksistensi satuan yang lebih besar. Posisi sosial dan ekonomi manusia adalah bagian dari tatanan atau susunan kosmik. Rusak atau tidak jalannya satu bagian (kecil sekalipun) dalam tatanan kosmik akan mengganggu keselarasan, yang ujung-ujungnya mengganggu individu itu sendiri.




Dalam cara pandang sebaliknya, setiap orang yang tahu bahwa seseorang dalam lingkungannya sedang menghadapi krisis haruslah mendapat uluran tangan untuk membantu menyelesaikannya. Bantuan ini bukan bersifat intervesif, karena bagi masyarakat Jawa sebuah urusan apapun sifatnya merupakan wadi bagi pihak yang bersangkutan. Ada privasi yang harus dihargai. Sehingga bantuan-bantuan lebih berupa dorongan moril dan tidak lebih jauh dari itu.




Di dalam kebudayaan Jawa, orang yang dibancaki biasanya diperlakukan dengan sangat istimewa. Mereka diperlakukan bak seorang pangeran, putri atau bahkan raja. Sehingga yang menjadi pusat dari upacara bancakan adalah orang yang dihajati. Meskipun demikian, upacara ritus yang dikenal di Jawa dengan “slametan” menimbulkan rasa solidaritas di antara mereka yang terlibat dan berpartisipasi, walaupun mereka punya status sosial yang berbeda-beda (Tuti Sumukti, Semar: Dunia Kebatinan Orang Jawa, 2006).




Demikianlah keselarasan dalam masyarakat diciptakan dengan melalui sarana bancakan. Ini yang kadang tidak terbaca oleh masyarakat modern. Bahwa ritual bancakan tidak saja sekedar bernilai mistis untuk mendapatkan bantuan atau jalan keluar atas sebuah masalah. Harus dipahami bahwa bantuan atau jalan keluar masalah selain berasal dari Yang Kuasa, juga merupakan hasil dari kontribusi bantuan tetangga sekitar. Bukankah tetangga yang akan pertama kali memberikan bantuan kepada kita jika kita mengalami kesulitan? Itulah kenapa keselarasan dalam masyarakat menjadi penting dan perlu. []